Realita Umat Islam Hari Ini  

Posted by Islam adalah........

Tidak dapat dipungkiri bahwa era sekarang adalah Era Amerika Serikat (al-Ashr al-Amriki). Seluruh dunia memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap AS, Israel dan sekutunya. AS dan Eropa yang beragama Nashrani dan Israel yang Yahudi sangat kuat mencengkeram dunia Islam. Bahkan sebagiannya dibawah kendali langsung mereka seperti Arab Saudi, Kuwait, Mesir, Irak dan lain-lain. Realitas yang buruk ini telah diprediksikan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya: Dari Said Al-Khudri, dari Nabi saw bersabda:” Kamu pasti akan mengikuti sunah perjalanan orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga walaupun mereka masuk lubang biawak kamu akan mengikutinya”. Sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah saw apakah mereka Yahudi dan Nashrani”. Rasul saw menjawab, ”Siapa lagi!” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Beginilah nasib dunia Islam di akhir jaman yang diprediksikan Rasulullah saw. Mereka akan mengikuti apa saja yang datang dari Yahudi dan Nashrani, kecuali sedikit diantara mereka yang sadar. Dan prediksi tersebut sekarang benar-benar sedang menimpa sebagian besar umat Islam dan dunia Islam.

Dari segi kehidupan sosial, sebagian besar umat Islam hampir sama dengan mereka. Hiburan yang disukai, mode pakaian yang dipakai, makanan yang dinikmati, film-film yang ditonton, bebasnya hubungan lawan jenis dan lain-lain. Pola hidup sosial Yahudi dan Nashrani melanda kehidupan umat Islam dengan dipandu media massa khususnya televisi.

Dalam kehidupan ekonomi, sistem bunga atau riba mendominasi persendian ekonomi dunia dimana dunia Islam secara terpaksa atau sukarela harus mengikutinya. Riba’ yang sangat zhalim dan merusak telah begitu kuat mewarnai ekonomi dunia, termasuk dunia Islam. Lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti IMF, Bank Dunia, WTO dll mendikte semua laju perekonomian di dunia Islam. Akibatnya krisis ekonomi dan keuangan disebabkan hutang dan korupsi menimpa sebagian besar dunia Islam.

Begitu juga pengekoran umat Islam terhadap Yahudi dan Nashrani terjadi dalam kehidupan politik. Politik dibangun atas dasar nilai-nilai sekuler, mencampakkan agama dan moral dalam dunia politik, bahkan siapa yang membawa agama dalam politik dianggap mempolitisasi agama. Begitu buruknya kehidupan politik umat Islam, sampai departemen yang mestinya mencerminkan nilai-nilai Islam, yaitu departemen agama, menjadi departemen yang paling buruk dan sarang korupsi.



WAHN
Buruknya realitas sosial politik umat Islam di akhir zaman disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw., beliau bersabda: Dari Tsauban berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kamu, seperti kelompok orang lapar siap melahap makanan”. Berkata seorang sahabat, ”Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?” Rasul saw. menjawab, ”Jumlah kalian pada saat itu banyak, tetapi kualitas kalian seperti buih ditengah lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh terhadap kalian, dan memasukkan kedalam hati kalian penyakit Wahn”. Berkata seorang sahabat, ”Wahai Rasulullah saw., apa itu Wahn?” Rasul saw. berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Inilah sebab utama dari realitas umat Islam, yaitu wahn. Penyakit cinta dunia dan takut mati sudah menghinggapi mayoritas umat Islam, sehingga mereka tidak ditakuti lagi oleh musuh, bahkan menjadi bulan-bulanan orang kafir. Banyak umat Islam yang berkhianat dan menjadi kaki-tangan musuh Islam, hanya karena iming-iming dunia. Bangsa Amerika, Israel dan sekutunya menjadi kuat di negeri muslim, karena di setiap negeri muslim banyak agen dan boneka AS dan Israel. Bahkan yang lebih parah dari itu, bahwa agen AS dan Israel itu adalah para penguasa negeri muslim sendiri atau kelompok yang dekat dengan penguasa.

Dunia dengan segala isinya seperti harta, tahta dan wanita sudah sedemikian kuatnya memperbudak sebagian umat Islam sehingga mereka menjadi budak para penjajah, baik AS Nashrani dan Israel Yahudi. Dan pada saat mereka begitu kuatnya mencintai dunia dan diperbudak oleh dunia, maka pada saat yang sama mereka takut mati. Takut mati karena takut berpisah dengan dunia dan takut mati karena banyak dosa. Demikianlah para penguasa dunia Islam diam, pada saat AS membantai rakyat muslim Irak, dan Israel membantai rakyat muslim Palestina.

Mengikuti Yahudi dan Nashrani

Kecenderungan yang kuat terhadap dunia atau wahn, menyebabkan umat Islam mengekor dan tunduk patuh kepada dunia barat yang notabenenya dikuasi Yahudi dan Nashrani. Dan ketika umat Islam mengikuti Yahudi dan Nashrani, maka banyak sekali kemiripan dengan meraka. Beberapa kemiripian dan sikap mengekor yang dilakukan umat Islam terhadap Yahudi dan Nashrani, di antaranya:

I. PenYikapan terhadap Agama (Sekuler)

Kaum Yahudi dan Nashrani bersikap sekuler dalam kehidupan. Mereka mencampakkan agama dari kehidupan sosial politik. Dalam memandang sesuatu, Kaum Yahudi dan Nashrani tidak berdasarkan agama mereka. Ruang lingkup agama dipersempit hanya di tempat-tempat ibadah saja. Sedangkan kehidupan sosial politik jauh dari nilai-nilai agama. Karena mereka meyakini bahwa agama sudah tidak berfungsi lagi untuk memberikan solusi kehidupan.

Gerakan sekuler tumbuh dan berkembang di dunia barat, dan berkembang ke seluruh penjuru dunia seiring dengan datangnya para penjajah barat ke dunia Islam. Maka berkembanglah sekulerisme di dunia Islam. Kehidupan sosial politik di negara-negara Islam jauh dari nilai-nilai ke-Islaman dan sekulerisme begitu sangat kuatnya di dunia Islam.

Sedangkan di Indonesia, sekulerisme sangat mudah dibaca dan sangat transparan. Jika kita melihat partai-partai politik, maka mayoritasnya partai sekuler, sampai partai yang basis masanya ormas Islam sekalipun, masih sangat kental dengan nilai-nilai sekulernya. Sekulerisme begitu sangat dalam masuk dalam sendi-sendi kehidupan sosial politik di Indonesia. Simbol-simbol pemerintahan, pakaian masyarakat, bahasa yang digunakan dll sarat dari nilai-nilai sekulerisme. Sementara dakwah Islam, masih sangat sedikit yang mengajak pada kesempurnaan Islam dan penerapannya dalam kehidupan masyarakat. Dakwah yang dominan di Indonesia adalah dakwah tasawuf yang mengajak pada dzikir yang sektoral, pembinaan dan manajemen hati yang sektoral dan sejenisnya.

II. PenYikapan terhadap Al-Qur’an

Pensikapan sebagian umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an sebagaimana Yahudi dan Nashrani mensikapi Taurat dan Injil. Kemiripan sikap ini pula menimbulkan fenomena dan dampak yang agak sama yang menimpa antara umat Islam dengan mereka. Beberapa kemiripan tersebut seperti disebutkan dalam informasi Al-Qur’an dan Hadits sbb:

1. Umiyah (Buta Huruf tentang Al-Qur’an)

Allah berfirman, “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (Al-Baqarah 78)

Sifat yang menimpa bangsa Yahudi terkait dengan kitab Tauratnya juga menimpa umat Islam terkait dengan Al-Qur’an, dimana mayoritas umat Islam buta huruf tentang Al-Qur’an, dalam arti tidak pandai membacanya apalagi memahaminya dengan baik.

2. Juz’iyah Al-Iman (Parsial dan Tidak Utuh dalam Mengimani Al-Qur’an)

Allah berfirman, “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah 85)

Ayat yang menyebutkan sikap Bani Israil terhadap Taurat ini juga menimpa umat Islam dimana banyak diantara mereka yang beriman pada sebagian ayat Al-Qur’an dan ingkar pada sebagian ayat yang lain. Umat Islam banyak yang beriman pada ayat yang mengajarkan shalat, puasa dan haji, tetapi mereka juga mengingkari ayat atau ajaran lain seperti tidak mengimani pengharaman riba’, tidak beriman pada ayat-ayat yang terkait hukum pidana (qishash dan hudud) dan hukum-hukum lain yang terkait dengan masalah politik dan pemerintahan.

3. Ittiba Manhaj Al-Basyari (Mengikuti Hukum Produk Manusia)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

(QS Al-Maa-idah 49-50)

Inilah musibah terbesar yang menimpa umat Islam di hampir seluruh dunia Islam pada akhir zaman, mereka mengikuti hukum sekuler buatan manusia. Bahkan di negara yang mayoritas penduduknya umat Islam, mereka tidak berdaya bahkan menolak terhadap pemberlakuan hukum Islam. Kondisi ini akan tetap berlangsung sehingga mereka merubah dirinya sendiri, berda’wah dan membebaskan dari semua pengaruh asing yang menimpa umat Islam.

4. Tidak Memahami Kedudukan Al-Qur’an

“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Al-Israa’:� 9)

Umat Islam tidak mengetahui dan tidak mendudukkan Al-Qur’an sesuai fungsinya. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai hidayah untuk manusia yang hidup tetapi banyak diselewengkan, Sebagian umat Islam hanya menggunakan Al-Qur’an terbatas sebagai bacaan untuk orang meninggal dan dibaca saat ada orang yang meninggal. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pedoman hidup hanya ramai di musabaqahkan. Sebagaian yang lain hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai kaligrafi yang menjadi hiasan dinding di masjid-masjid atau di tempat lainnya. Sebagian yang lain menjadikan Al-Qur’an sebagai jimat, yang lain hanya menjadi pajangan pelengkap perpustakaan yang jarang dibaca atau bahkan tidak pernah dibaca.

5. Hajr Al-Qur’an (Meninggalkan Al-Qur’an)

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.

Meninggalkan Al-Qur’an adalah salah satu masalah besar yang menimpa umat Islam. Umat Islam banyak yang meninggalkan Al-Qur’an, dalam arti tidak memahami, tidak membaca, tidak mentadaburi, tidak membaca, tidak mengamalkan dan tidak menjadikan pedoman hidup dalam kehidupan mereka. Umat Islam lebih asyik dengan televisi, koran, majalah, lagu-lagu, musik dan lainnya. Jauhnya umat Islam menyebabkan hinanya mereka dalam kehidupan dunia. Salah satu rahasia kejayaan umat Islam apabila mereka komitmen dengan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.

III. PenYikapan terhadap Ahli Agama (Kultus)

Allah Taala berfirman, ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

Inilah sikap Yahudi dan Nasrani terhadap ahli agama mereka. Dan ternyata banyak dari umat Islam yang mengkultuskan ulama dan kyai dan menempatkan mereka pada posisi Tuhan yang suci dan tidak pernah salah.

Terkait dengan surat At-Taubah 31, diriwayatkan dalam beberapa hadits diantaranya oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan At-Tabrani bahwa Adi bin Hatim yang baru masuk Islam datang kepada Rasulullah saw. yang masih memakai kalung salib dan Rasulullah saw. memerintahkan untuk melepaskannya. Kemudian Rasul saw. membacakan ayat tadi. Adi menyanggahnya, ”Wahai Rasulullah kami tidak menyembahnya”. Tetapi Rasulullah saw menjawabnya, ”Bukankah mereka mengharamkan yang dihalalkan Allah dan menghalalkan yang diharamkan Allah?” Betul”, kata Adi. Rasul saw. meneruskan, ”Itulah ibadah mereka”.

Demikianlah pendapat mayoritas ulama jika sudah menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan mentaatinya maka itulah bentuk penyembahan terhadap ahli agama. Dan ini pula yang banyak menimpa umat Islam, mereka mentaati secar buta apa yang dikatakan ulama atau kyai padahal bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

IV. PenYikapan terhadap Dunia (Rakus)

Penyakit utama Yahudi adalah sangat rakus terhadap dunia, baik harta, kekuasaan maupun wanita sebagaimana direkam dalam Al-Qur’an, Allah Taala berfirman, “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (Al-Baqarah 96)

Penyakit ini pula yang menimpa sebagian besar umat Islam sebagaimana disebutkan dalam hadits wahn. Perlombaan sebagian umat Islam terhadap dunia telah membuat mereka buta dan tuli sehingga menghalalkan segala cara. Inilah fenomena yang terjadi di Indonesia dan sebagian negeri muslim lainnya. Mayoritas penduduknya muslim tetapi menjadi negera terkorup di dunia, paling banyak hutangnya, paling jorok, paling rusak dll. Sungguh sangat jauh antara Islam dan realitas umat Islam.

Di antara dorongan dunia yang paling kuat daya tariknya adalah syahwat wanita. Dan inilah yang sedang menimpa kita. Fenomena seks bebas, pornografi merupakan santapan harian bagi sebagian umat Islam. Dan realitas ini sangat cerdas dimanfaatkan oleh broker seks bebas. Manusia yang sedang rakus dan lahap terhadap syahwat mendapatkan makanan dan pemandangan yang sangat cocok bagi mereka. Lebih ironis lagi orang-orang yang rusak itu dianggap paling berjasa oleh sebagian kyai dan ulama, karena dapat menghibur manusia Indonesia yang lagi stress. Memang manusia Indonesia sedang terkena penyakit dan penyakit itu adalah penyakit hati dan syahwat. Dan mereka memuaskan rasa sakit itu, sebagaimana narkoba memuaskan orang yang sedang kecanduan narkoba itu.

Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Said Al-Khudri ra. Nabi saw. bersabda:” Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah akan menguji kalian, maka Allah akan melihat bagaimana kamu memperlakukan dunia. Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama menimpa Bani Israil adalah pada wanita” (HR Muslim)

V. PenYikapan terhadap Akhirat (Meremehkan)

Allah SWT. berfirman: Artinya: Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS Al-Baqarah 80-81).

Inilah sikap mereka yaitu Yahudi terhadap akhirat, lebih khusus lagi terhadap neraka. Mereka meremehkan siksa api neraka. Dan ternyata penyakit ini juga banyak menimpa umat Islam. Sebagian umat Islam yang meremehkan siksa api neraka membuat mereka melalaikan kewajiban Islam, seperti menegakkan shalat, zakat, puasa, haji, menutup aurat dll. Pada saat yang sama mereka juga tidak takut berbuat dosa. Inilah fenomena potret umat Islam.

Umat Islam yang melakukan korupsi, suap, manipulasi, dan curang dalam kehidupan politik. Umat Islam yang bertransaksi dengan riba dalam kehidupan ekonomi. Umat Islam yang meramaikan tempat hiburan dan prostitusi dalam keremangan malam, bahkan siang sekalipun. Umat Islam yang memenuhi meja-meja judi disetiap pelosok kota dan negeri. Umat Islam yang banyak menjadi korban narkoba. Umat Islam dan sebagian kaum muslimat yang buka aurat bahkan telanjang ditonton masyarakat. Dan masih banyak lagi daftar kejahatan sebagain umat yang mengaku umat Islam. Dan itulah potret dan realitas umat Islam hari ini.

Dan ketikan umat Islam terus mengikuti pola hidup Yahudi dan Nashrani dan mengekor pada kepentingan mereka, maka akan berakibat sangat buruk yaitu murtad dan jatuh pada jurang kekafiran. Naudzubillahi min dzaalik. Semoga kita diselamatkan dari bahaya tersebut sebagaimana yang Allah ingatkan kepada kita semua: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Ali Imran: 100)

Islam Agama Sempurna  

Posted by Islam adalah........

Islam Untuk Seluruh Manusia

Kata Islam punya dua makna. Pertama, nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama) Allah. Kedua, Islam merujuk pada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia kepada nash (teks) wahyu yang berisi ajaran din (agama) Allah.

Berdasarkan makna pertama, Islam yang dibawa satu rasul berbeda dengan yang dibawa rasul lainnya, dalam hal keluasan dan keuniversalannya. Meskipun demikian dalam permasalah fundamental dan prinsip tetap sama. Islam yang dibawa Nabi Musa lebih luas dibandingkan yang dibawa Nabi Nuh. Karena itu, tak heran jika Al-Qur’an pun menyebut-nyebut tentang Taurat. Misalnya di ayat 145 surat Al-A’raf. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa di Luh-luh (Taurat) tentang segala sesuatu sebagai peringatan dan penjelasan bagi segala sesuatunya.…

Islam yang dibawa Nabi Muhammad lebih luas lagi daripada yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya sendiri. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Islam yang dibawanya lebih luas dan menyeluruh. Tak heran jika Al-Qur’an bisa menjelaskan dan menunjukkan tentang segala sesuatu kepada manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu. (An-Nahl: 89)

Dengan kesempurnaan risalah Nabi Muhammad saw., sempurnalah struktur kenabian dan risalah samawiyah (langit). Kita yang hidup setelah Nabi Muhammad diutus, telah diberi petunjuk oleh Allah tentang semua tradisi para nabi dan rasul yang sebelumnya. Allah swt. menyatakan hal ini di Al-Qur’an. Mereka orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. (Al-An’am: 90). Dan kamu diberi petunjuk tentang sunah-sunah orang-orang yang sebelum kamu. (An-Nisa: 20)

Sedangkan tentang telah sempurnanya risalah agama-Nya, Allah menyatakan dalam surat Al-Maidah ayat 3. Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagimu sekalian….


Rasulullah saw. menjelaskan bahwa risalah yang dibawanya adalah satu kesatuan dengan risalah yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. “Perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi sebelumku ibarat orang yang membangun sebuah rumah. Ia memperindah dan mempercantik rumah itu, kecuali letak batu bata pada salah satu sisi bangunannya. Kemudian manusia mengelilingi dan mengagumi rumah itu, lalu mengatakan: ‘Alangkah indah jika batu ini dipasang!’ Aku adalah batu bata tersebut dan aku adalah penutup para nabi,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari dan Muslim)

Agama Selain Islam Ditolak

Sempurna dan lengkapnya risalah agama langit yang Allah proklamasikan pada haji wada’ dengan ayat 3 surat Al-Maidah –yang juga sebagai wahyu terakhir turun–, mengharuskan seluruh manusia tunduk pada Islam. Semua syariat yang terdahulu dengan sendirinya mansukh (terhapus). Dan, tidak akan ada lagi syariat baru sesudah risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Risalah dan kenabian telah ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad. ….tetapi ia (Nabi Muhammad) sebagai utusan Alah dan penutup nabi-nabi… (Al-Ahzab: 40). Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158). Dan Kami tidak mengutus kamu kecuali untuk seluruh manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. (Saba: 28). Dan tidaklah Kami mengutusmu, kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya’: 107).

Karenanya, Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya. (Ali Imran: 85). Sebab, sesungguhnya agama yang diridhai Allah adalah Islam. (Ali Imran: 19).

Maka, siapa saja yang tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad, ia akan celaka dan menjadi orang yang sesat. Kata Rasulullah saw., “Demi Dzat yang diriku dalam genggaman-Nya, tidak seorang pun dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani, mendengar (berita kerasulan)-ku, kemudian ia tidak beriman kepada apa yang aku bawa, kecuali ia sebagai ahli neraka.” (Muslim)

Allah menegaskan dalam Al-Qur’am, “Barangsiapa menentang Rasul sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikuti bukan jalan orang-orang mukmin, niscaya Kami angkat dia menjadi pemimpin apa yang dipimpinnya dan Kami masukkan ke dalam neraka jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115).

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasu-Nya dan hendak membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan Rasul-Nya, mereka berkata, kami beriman kepada setengah (Rasul) dan kafir kepada yang lain, dan mereka hendak mengambil jalan tengah (netral) antara yang demikian itu. Mereka itu ialah orang-orang kafir yang sebenarnya, dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan (An-Nisa:150-151).

Risalah yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad telah banyak dilupakan, diselewengkan, diubah, dan ajarannya yang haq telah dihapus. Sehingga, melekatlah kebatilan di kalangan para pemeluknya, baik dalam masalah akidah, ibadah, dan perilakunya. Sementara, Islam adalah agama yang sumber ajarannya, Al-Qur’an dan Hadits, terjaga keshahihannya. Sanadnya tersambung kepada Rasulullah saw. Apakah ada pilihan bagi kita yang ingin berislam kepada Allah swt selain dengan mengikuti risalah yang dibawa Nabi Muhammad? Tentu saja tidak.

Allah berfirman, “Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul Kami, yang menerangkan (syariat Kami) kepadamu ketika rasul-rasul telah putus supaya kamu tidak berkata, ‘Tidak datang kepada kami pemberi kabar gembira dan tidak pula memberi peringatan.’ Allah MahaTahu atas segala sesuatu.” (Al_maidah: 19)

Sumber Ajaran Islam

Isi ajaran Islam yang diserukan Nabi Muhammad dapat diketahui dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diakui keabsahannya oleh para ulama hadits. Islam yang dibawa Nabi Muhammad merupakan hidayah yang sempurna bagi seluruh umat manusia. Allah menurunkan Islam ini secara sempurna dan menyeluruh sehingga tidak ada satu persoalan pun yang menyangkut kehidupan manusia yang tidak diatur. Islam memuat aspek hukum –halal-haram, mubah-makruh, fardhu-sunnah—juga menyangkut masalah akidah, ibadah, politik, ekonomi, perang, damai, perundangan, dan semua konsep hidup manusia.

Begitulah yang Allah katakan tentang Al-Qur’an. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu. (An-Nahl: 89). Dan sebagai pemerinci terhadap segala sesuatu. (Al-A’raf: 145)

Sedangkan yang belum dijelaskan secara gamblang dan rinci dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dapat diketahui dengan jalan pengambilan hukum oleh para mujtahid umat Islam (istimbath).

Kitab dan Sunah telah menjelaskan semua persoalan yang terkait dengan akidah, ibadah, ekonomi, sosial kemasyarakatan, perang dan damai, perundang-undangan dan kehakiman, ilmu, pendidikan dan kebudayaan, serta hukum dan pemerintahan. Para ahli fiqh membuat klasifikasi ajaran Islam ke dalam persoalan akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan uqubah (sanksi hukum).

Yang termasuk dalam urusan akidah adalah masalah hukum dan pemerintahan. Masalah akhlak adalah masalah tata karma. Sedangkan yang masuk ke dalam urusan ibadah adalah masalah shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Muamalah menyangkut urusan transaksi keuangan, nikah dna segala persoalannya, soal-soal konflik, amanah dan harta warisan. Sedangkan yang masuk dalam kategori uqubah adalah persoalan qishash, hukuman bagi pencuri, pezina, tuduhan zina, dan murtad.

KEINDAHAN ISLAM  

Posted by Islam adalah........

ALLAH SWT berfirman yang artinya :

“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”
[Ali Imran : 19]

Satu-satunya agama yang Allah akui kebenarannya, kesempurnaannya dan terbaik untuk manusia adalah Islam. Sebab Islam itu ialah agama yang datang dari Allah, sedangkan agama-agama lain adalah bikinan manusia semata-mata. Adakah sama sesuatu yang datang dari Allah dengan sesuatu yang direka oleh manusia ? jauh, jauh sekali bedanya.

Allah adalah pencipta manusia, karena itulah Allah lah yang paling tahu tentang manusia. Oleh karenanya aturan/agama Allah itulah yang paling lengkap dan paling sesuai dengan kejaian semula jadi (fitrah manusia).

Diri manusia terdiri dari 3 unsur, yaitu fisik, akal dan Roh/hati/jiwa. Roh/hati/jiwa manusia mempunyai perasaan yang Tuhan bekalkan bersamaan dengan lahirnya fisik manusia. Indahnya Islam itu adalah dinul Islamitu sebenarnya sangat sesuai dengan fitrah manusia, dengan kata lain sesuai dengan perasaan manusia. Apa yang hati manusia setuju, itulah yang Allah suruh. Apa yang hati tidak setuju, itulah yang Allah larang.

Kemudian oleh Allah, Rasul diutus untuk membawa perintah untuk membenarkan apa yang ada dalam fitrah manusia, menyuburkan apa yang telah ada. Karena itulah Islam itu indah sebab memberi makanan pada roh. Apa yang roh kehendaki, itu yang dihidangkan oleh Islam. Seperti makanan untuk fisik manusia, kita suka daging, tiba-tiba terhidang daging, betapa indahnya. Kita suka ikan, dihidangkan ikan, betapa indahnya. Tapi ketika kita ingin daging dihidangkan lauk yang kita tidak suka, tidak indah.

Mari kita sebut contoh-contohnya.




1. Yang berhubungan dengan Aqidah.

Manusia sifatnya suka menghambakan diri kepada tuannya yang menolong, melindungi dan yang memperhatikan dirinya. Atau dengan kata lain manusia rela mengabdikan diri kepada siapa yang dicintainya. Kalau kecintaannya itu perempuan maka ia akan menjadi hamba pada perempuan itu. Kalau kecintaannya pada mobil mewah, maka menghambalah ia pada mobil mewah. Kalau cintanya atau pautannya pada nafsu yakni menurut kata nafsu, jadilah ia seorang hamba nafsu.

Tapi aneh, manusia sangat marah kalah dijuluki hamba wanita, hamba mobil atau hamba nafsu. Fitrah menolak sekalipun sikapnya memang betul begitu. Mengapa ? Sebab fitrah manusia ingin menjadi hamba Allah. Dan keinginan menjadi hamba selain Allah itu bukan fitrah. Katakanlah kepada siapa saja tanpa memandang orang kafir atau Islam, “Kamu ini hamba Allah”, niscaya ia mengiyakan dan rasa senang dengan kata-kata itu baik di mulut atau di hati. Hal ini adalah karena fitrah manusia telah Allah ciptakan untuk menyembah-Nya dan untuk menghambakan diri kepada-Nya. Lihat firman-Nya :

“Tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku”
[Az-Zaariat : 56]

Allah mau manusia menyembah-Nya dan tidak pada yang lain. Maka dijadikan fitrah manusia itu mempunyai rasa bertuhan dan menghamba diri pada-Nya. Tanyakanlah pada orang-orang yang menyembah Allah atau tidak menyembah Allah, adalah dia ingin menyembah Allah dan suka pada orang-orang yang menyembah Allah. Niscaya mereka menjawab memang suka. Suka pada pekerjaan menyembah Allah dan suka pada orang yang melakukannya. Cuma kalau mereka tidak melakukannya, itu bukan karena benci, atau hati tidak mengakui, tetapi karena nafsu dan syaitan menghalangi dan melalaikan mereka. Mereka tidak kuasa melawan nafsu (yang sifatnya ego), lalu menurutinya. Kalaulah bukan karena nafsu dan syaitan, niscaya manusia ini akan senantiasa merindukan dan membesarkan Tuhannya dan sangat taat pada-Nya. Fitrah roh sudah kenal Allah dan mengaku untuk menyembah-Nya. Di dalam Al-Quran ada menceritakan hakikat ini :

“Allah bertanya kepada roh : “Bukankah Aku Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi”
[Al A’raf : 172]

2. Yang berhubungan dengan Syariat.

* Manusia ingin menambah ilmu. Ingin mencari pengalaman dan ingin pandai, dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Manusia tidak mau hidup beku, jahil dan miskin papa. Itu adalah fitrah. Semua orang memilikinya walau apa pun juga bangsa dan agamanya. Memang Allah jadikan jiwa manusia begitu kemauannya. Oleh karena itu Allah datangkan agama Islam yang mengajar supaya manusia mengisi tuntutan fitrah itu. Firman Allah :


Katakanlah : “Berjalanlah kamu di muka bumi, kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang yan mendustakan itu.”
[Al An’am : 11]

Artinya kita disuruh mengembara untuk mencari pengalaman. Rasulullah SAW bersabda:

“Menuntut ilmu wajib bagi lelaki dan wanita”
(Riwayat Ibnu Abdi Al Barri)

Sabdanya lagi :

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”

Begitulah yang dikatakan Islam agama fitrah. Yakni apabila sesuatu itu disukai oleh fitrah maka Islam mendorong atau membenarkannya. Disebabkan Allah yang menjadikan fitrah manusia itu demikian maka Allah pun datangkan cara bagaimana keinginann fitrah itu disalurkan. Tanpa petunjuk dari Allah, nafsulah yang akan memimpin manusia untuk melaksanakan kehendak fitrah itu secara membabi buta. Kesannya akan buruk sekali.

Misalnya apabila ilmu yang dituntut itu ilmu yang haram (ilmu sihir atau ilmu yang tidak dikaitkan dengan tauhid dan jiwa sufi) maka ia akan membawa akibat buruk. Walaupun adakalanya ilmu itu bersumber dari Islam, tetapi tanpa dikaitkan dengan tauhid dan akhlak, ia akan menyebabkan manusia sombong, dengki, bakhil, pemarah, rasuah, dan lain-lain.

Demikian juga halnya kalau mengembara yang tidak dikendalikan oleh syariah atau tidak diniatkan karena Allah atau untuk kebaikan ia akan membawa hasil yang buruk. Sebab itu Islam menurunkan panduan-panduan yang rapi dalam melaksanakan tuntutan fitrah itu.

* Dalam mencari kekayaan yang diinginkan oleh fitrah murni manusia misalnya, Islam tidak melarangnya. Malah Allah mendorong dengan firman-Nya :

”Apabila telah ditunaikan shalat hendaknya kamu bertebaran di muka bumi dan hendaklah kamu cari kurniaan Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak moga-moga kamu dapat kemenangan”
[Al Jumaah : 10]

Nabi SAW bersabda yang artinya :

“Berniagalah karena sembilan puluh persen dari rezeki itu ada dalam perniagaan”

Tapi mencari harta tidaklah boleh dibuat secara sewenang-wenang. Islam mengatur cara-cara yang bersih dari riba, penipuan dan tindas-menindas, karena hal-hal yang buruk itu bertentangan dengan fitrah. Hasilnya tidak untuk berfoya-foya, berjudi atau membekukannya dalam bank, tapi untuk kebaikan seperti membantu fakir miskin, membangun proyek yang memenuhi keperluan masyarakat atau membantu usaha jihad fisabilillah. Hal ini diatur begitu rupa karena ia sesuai dengan fitrah. Sebaliknya apa yang Islam halangi adalah bertentangan dengan fitrah.

* Siapa saja, tanpa melihat apakah orang itu Islam atau yang bukan Islam suka kepada makanan sedap; lelaki suka pada perempuan, perempuan suka pada lelaki; ingin mempunyai badan yang sehat dan pikiran yang waras. Begitulah fitrah manusia. Kalau keinginan fitrah ini tidak tercapai, manusia akan rasa susah dukacita dan gelisah. Allah yang menciptakan manusai sedemikian rupa, tahu cara yang sebaik-baiknya untuk manusia mencapai keinginan-keinginan itu, dan tahu juga cara-cara yang dapat merusakkan manusa dalam usaha mereka mencapai keinginan-keinginan itu. Oleh sebab itu Allah rela menurunkan petunjuk bagaimana keinginan itu bisa dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Islam tidak menghalangi keinginan fitrah tetapi tidak juga terlalu membiarkan keinginan itu dipenuhi secara membabi buta. Makan sedap, misalnya, diperbolehkan dengan syarat Jangan makan makanan yang haram atau berlebihan. Malah, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sunat hukumnya makan daging seminggu sekali.


Demikian juga Islam menunaikan keinginan fitrah manusia untuk menikah. Ia memang dianjurkan oleh Rasulullah SAW :

“Menikah itu adalah Sunnahku, siapa yang benci pada Sunnahku ini bukanlah ia dari umatku”

Hadis lain berbunyi :

“Dua rakaat shalat orang yang menikah lebih baik dari 70 rakaat shalat orang bujang”

Demikianlah indahnya Islam. Dalam usaha mengelakkan masalah dalam perkawinan, maka ditentukan syarat rukunnya yang wajib dipenuhi. Tanpa memenuhi syarat, rumah tangga akan goyang dan tumbang. Islam membenarkan menikah dan mengharamkan zina. Sebab zina akan menzalimi dan menganiaya kaum wanita. Anak hasil perzinaan yang tidak tentu bapaknya ini akan terlunta-lunta hidupnya. Ke mana anak itu akan membawa diri ? Hal ini tidak ada siapapun yang suka. Fitrah menolak. Sebab itulah Allah mengharamkannya karena ia bertentangan dengan fitrah. Bagaimana tidak, seseorang yang berzina itu akan melibatkan baik itu ibu orang atau isteri orang atau anak perempuan orang. Siapa pun akan marah kalau keluarganya yang terlibat. Kalau begitu sanggupkah kita berzina sedangkan kita sendiri tidak suka perkara itu terjadi dalam keluarga kita ?

Dalam Islam ada kaedah :

Tidak mudharat dan tidak memberi mudharat.
Contohnya:
1. Kawin boleh, tapi jangan dengan isteri orang.
2. Kaya boleh, tapi jangan cara mencuri atau menipu uang rakyat.

Tidak ada orang, baik itu Islam atau bukan Islam, yang menganggap zina itu baik. Kalau terjadi juga, itu karena manusia sudah jadi syaitdan dan nafsunya sudah jahat sekali. Namun hati kecilnya tetap menolak; artinya dia senantiasa dalam keadaan melawan hati kecilnya. Orang ini tidak tenang hidupnya. Dia diburu rasa bersalah dan berdosa sepanjang masa.

* Akhlak yang baik, budi pekerti yang mulia yakni berbuat kebaikan sesama manusia sehingga dapat menghibur hati manusa, semua orang suka. Bagi orang yang suka menyakiti hati orang lain sebetulnya dia pun tidak mau orang lain menyakiti hatinya dan suka kalau ia dihibur. Begitulah fitrah. Maka Islam agama fitrah ini datang memerintahkan agar manusia berakhlak baik sesama manusia. Sabda Rasulullah SAW, Sebaik-baik manusia ialah manusia yang paling banyak membuat kebaikan untuk manusia lain.


Dengan itu, siapa saja yang berakhlak buruk dengan sesama manusia, seperti sombong, bakhil, hasad dan lain-lain, berarti dia menentang Allah dan juga menentang fitrahnya. Orang begini bukan saja dimurkai Allah tapi dia membenci dirinya sendiri. Hidupnya tidak akan tenang dunia akhirat.

Kalau manusia saling mengisi fitrah, aman damailah masyarakat. Tapi apa yang terjadi sekarang kita susahkan orang tapi minta orang jangan susahkan kita. Al hasil sengketa semakin merata.

Begitulah uraian tentang indahnya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Dan siapa yang tidak ikut Islam artinya menentang fitrahnya. Walaupun mereka kaya-raya, mempunyai jabatan tinggi dan banyak ilmu, tidak akan tenang hidup mereka di dunia apalagi di akhirat. Karena bukan saja dia bermusuhan dengan Allah tapi juga bermusuhan dengan dirinya sendiri. Pada lahirnya manusia nampak ia senang-senang tapi hatinya hanya Allah saja yang tahu; kosong, gelisah, tersiksa, serba salah dan mudah marah.

Di Barat hari ini, orang yang kelihatan bijak pandai dan hidup senang dilaporkan banyak yang terkena sakit jiwa. Sehingga jumlah orang yang masuk rumah sakit jiwa melebihi jumlah orang yang masuk ke universtas dan kolej. Di Timur, umat Islam yang sudah rusak imannya karena terlalu menuruti nafsunya sedang menghadapi hal yang sama. Cara hidup yang mereka pilih telah menghantarkan mereka ke lembah masalah dan kesusahan.

Hanya Islam satu-satunya agama yang sistem hidupnya benar dan terbaik untuk diikuti. Yakni kehidupan Sunnah yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin serta semua salafussoleh. Dengan mencontohi mereka, niscaya manusia akan kembali kepada fitrah murninya dan akan bahagia di dunia dan akhirat. Antara ciri-ciri hidup mereka adalah :

1. Beriman dan bertaqwa
2. Beribadah dan berzikir.
3. Berakhlak mulia dengan Allah dan sesama manusia.
4. Berjuang dan berjihad dengan Allah dan sesama manusia.
5. Berkorban pada jalan Allah.
6. Menuntut ilmu dunia dan akhirat untuk melaksanakannya.
7. Bekerja mencari rezeki yang halal, di samping membangunkan tamadun ummah.
8. Taat dan patuh pada Allah, pada Rasul dan pada pemimpin yang taat kepada Allah.
9. Berkasih sayang.
10. Saling membantu dalah kebaikan dan menolak kejahatan.
11. Bermaaf-maafan.
12. Bertenggang rasa di seputar masalah atau di sudut-sudut yang dibolehkan

KEAGUNGAN DAN KEBESARAN ISLAM  

Posted by Islam adalah........

Rasulullah SAW diutus oleh Allah ke dunia ini yang padanya diberikan agama Islam dialah yang dikatakan sebagai pembawa rahmat kepada alam. Agama Islam yang diberikan kepada Rasulullah SAW oleh Allah adalah untuk memimpin manusia ini, firman Allah yang maksudnya :

“Tidak Aku utuskan engkau (ya Muhammad) melainkan untuk menjadi Rahmat kepada Alam)”

Walaupun kita dapati ayat ini menunjukkan bahwa rahmat yang dibawa oleh Rasulullah itu adalah umum kepada semua manusia tetapi sebenarnya adalah dikhususkan oleh Allah kepada orang mukmin semata-mata. Orang yang diluar mukmin tidak akan mendapat rahmat bahkan mereka lebih merasa tidak senang hati dengan Islam dan kedatangan Al Qur’an yang disampaikan oleh Allah kepada Rasulullah SAW. Manakala kedatangan Rasulullah yang padanya disampaikan agama Islam dan dengan agama ini Rasulullah menyampaikannya kepada umat serta memimpin umat hingga umat ini menerima Allah dan menerima Rasulullah, disinilah letaknya rahasia keagungan Islam dan kebesaran Islam.

Apakah yang dikatakan dengan keagungan Islam atau kebesaran Islam itu ? Sebelum kita memperkatakan mengenainya, disini saya akan paparkan beberapa pendapat yang telah kita dengar dan yang pernah disampaikan kepada umat Islam tentang apakah yang dikatakan dengan keagungan Islam itu, dan salah satu dai pada pendapat-pendapat itu mengatakan bahwa setelah umat ini menerima agama Islam, mereka telah didorong untuk mencari ilmu pengetahuan dan didorong untuk berfikir hingga akhirnya lahirlah ahli-ahli filosof dan ahli-ahli fikir dikalangan masyarakat Islam seperti Imam Ghazali Rahimahumullahu Taala, Ibnu Rusyd, Al Farabi, Ibnu Sina, dan beribu-ribu lagi tokoh Islam yang lain. Mereka-mereka ini telah menjadi ahli-ahli filosof dan ahli-ahli fikir dibidang masing-masing disebabkan agama Islam itu mendorong mereka mencari dan menyelidiki ilmu pengetahuan. Karena yang demikianlah maka ada setengah-setengah umat Islam memberikannya sebagai sebab-sebab keagungan Islam itu, mereka ini mengatakan bahwa kebesaran Islam itu adalah karena ia telah melahirkan ahli-ahli fikir yang terkenal di kalangan penganut-penganutnya karena agama Islam itu mendorong umatnya mencari ilmu dan menyelidik.

Kalaulah hanya mendorong manusia ini untuk mencari ilmu pengetahuan serta menyelidik ilmu-ilmu di berbagai bidang hingga menjadikan mereka ahli-ahli fikir dan ahli-ahli filosof yang terkenal, kita rasa dengan tidak perlu didatangkan Rasulullah SAW dan juga Islam serta dengan tidak didatangkannya Al Qur’an dan Sunnah pun manusia juga bisa pandai dan manusia juga bisa mengkaji ilmu pengetahuan di berbagai bidang hingga manusia bisa menjadi ahli-ahli filosof. Ini telah dibuktikan oleh sejarah manusia. Umpamanya di kalangan bangsa Yunani telah muncul banyak ahli-ahli filosof serta ahli-ahli fikir yang besar dan kecil seperti Aristoteles, Plato, Socrates, dan lain-lain. Yang mana mereka ini adalah memiliki ilmu pengetahuan di bidang masing-masing hingga mereka disanjung oleh manusia di masa itu bahkan masih disanjung lagi pada hari ini. Dan sebagaimana yang kita ketahui, mereka ini telah lahir ribuan tahun sebelum kedatangan Rasulullah SAW, Al Qur’an dan Islam artinya mereka telah menjadi ahli fikir dan ahli filosof tanpa kedatangan Rasulullah, Al Qur’an dan Islam.



Jadi kita dapati disini bahwa kalau sekiranya Allah tidak datangkan Rasulullah dan Al Qur’an pun manusia bisa menjadi ahli fikir yang terkenal, ini adalah karena ingin mencari ilmu pengetahuan, ingin menyelidik dan ingin pandai, dan ingin berilmu pengetahuan itu adalah fitrah semula jadi manusia, bukan didorong oleh Islam dan Al Qur’an. Karena yang demikian bukanlah yang dikatakan keagungan Islam itu karena ia mendorong manusia menjadi pandai atau menjadi ahli-ahli fikir.

Kemudian ada pula orang yang berpendapat bahwa keagungan Islam itu adalah karena ia mendorong penganutnya menjadi ahli seni bangunan hingga dapat membangunkan dan membina bangunan yang indah seperti mesjid Kurtubah yang besar dan indah itu hingga jaman sekarang bisa dilihat lagi. Kemudian terbinanya Jannatul Aris suatu taman yang pernah dibangunkan oleh umat Islam di zaman kerajaan Islam di Spanyol. Taman ini begitu indah dan cantik sekali hasil dari seni bangunan umat Islam, kemudian di Spanyol juga terdapat istana Al-Hambra sebuah bangunan yang terkenal yang juga dibina oleh masyarakat Islam. Kemudian pula terdapat lagi satu binaan yang termasyhur hingga hari ini di India yang dinamakan Taj Mahal. Bangunan ini dibina oleh umat Islam ketika itu yang mana bilangan pekerjanya saja berpuluh-puluh ribu. Ia berdiri dengan indah dan gagah hingga ke hari ini.

Kalaulah hanya untuk mendorong manusia membina dan membangunkan istana-istana indah atau bangunan-bangunan yang indah seperti Al-Hambra, Taj Mahal dan sebagainya, kita rasa tanpa didatangkan Rasulullah, tanpa adanya Al Qur’an dan Islam, manusia dapat juga menghasilkan bangunan-bangunan yang indah seperti itu. Sejarah telah memaparkan kepada kita bagaimana Romawi dan Parsi yang merupakan dua kekuatan dunia di zaman sebelum Rasulullah SAW telah dapat melahirkan manusia-manusia yang bisa membina bangunan-bangunan yang indah dan gagah yang masih dapat dijumpai lagi di negara itu pada masa ini.

Di dalam Al Qur’an telah digambarkan bagaimana kaum Aad, kaum Tsamud, kerajaan Saba di negeri Yaman, beribu tahun sebelum Rasulullah pernah membangun kemajuan, pernah membina gedung-gedung besar, pernah membina sistem pengairan yang besar hingga dapat menyuburkan tanaman-tanaman mereka. Dan kaum ini tidak pernah didorong oleh Al Qur’an dan ajaran Islam. Artinya tanpa Rasulullah, tanpa Al Qur’an dan tanpa Islam mereka bisa membangun.

Kemudian oleh sebagian orang pula berpendapat bahwa keagungan dan kebesaran itu karena penganut-penganutnya di dorong hingga dapat menguasai tiga perempat muka bumi ini. Memang benar, para-para sahabat hingga ke zaman para salafussoleh telah dapat menguasai tiga perempat dunia ini, tetapi kalau inilah yang menyebabkan Islam itu agung dan besar, maka kita rasa pandangan itu tidak tepat malahan pandangan ini bisa memperkecilkan Islam itu sendiri, karena bangsa-bangsa sebelum Rasulullah lagi seperti Romawi dan Parsi telah dapat menguasai jajahan yang begitu luas di tanah Arab. Bangsa Cina juga pernah menguasai satu daerah jajahan yang luas. Mereka tidak didorong oleh Rasulullah dan Al Qur’an. Bangsa Yunani juga pernah mempunyai tanah jajahan yang luas sebelum kedatangan Rasulullah dan Islam bahkan bangsa-bangsa Eropa dan Barat di suatu masa dahulu telah dapat menakluki banyak negara-negara di dunia ini termasuk jugalah negara kita ini. Artinya mereka telah dapat menakluki satu kawasan yang luas tanpa dorongan Rasulullah, tanpa dorongan Al Qur’an dan tanpa dorongan Islam.

Sebenarnya ingin berkuasa serta ingin membangun dan berkemajuan, juga ingin mencari ilmu pengetahuan adalah menjadi fitrah manusia. Seperti juga manusia ini ingin makan, ingin kawin dan sebagainya. Ia juga adalah fitrah manusia. Semua yang berbentuk fitrah manusia tidak perlu didorong-dorong, tidak perlu diajar. Semua bangsa dan semua kaum dapat bertindak secara otomatik dan mengikut apa saja yang dikehendaki oleh fitrahnya. Karena itu tanpa Rasulullah, tanpa Al Qur’an dan tanpa Islam, manusia dapat langsung bertindak untuk mencari ilmu pengetahuan, dapat bertindak untuk membangun dan membina serta dapat langsung bertindak untuk menguasai jajahan. Dengan demikian bukan disini letaknya keagungan dan kebesaran Islam itu. Karena itu ketiga-tiga pendapat ini tidak bisa kita terima.

Tetapi yang sebenarnya keagungan dan kebesaran Islam itu ialah setelah didatangkan Rasulullah SAW, manusia dapat mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, melalui sifat Rahman-Nya serta melalui sifat Rahim-Nya, melalui sifat Qadim-Nya dan lain-lain. Artinya setelah Rasulullah didatangkan barulah manusia ini kenal Allah dengan sebenar-benarnya yang mana sebelum ada Rasulullah SAW manusia ini hanya tahu adanya pencipta bumi dan langit ini tetapi manusia tidak kenal Allah. Manusia ketika itu hanya dapat merasakan adanya Allah tetapi tidak mengenal Allah mengikut pengertian yang sebenarnya. Manakala manusia di ketika itu pula tidak tahu bagaimana hendak menyembah Allah, walaupun rasa bertuhan itu ada. Jadi sebelum dibangkitkan Rasulullah manusia ini hanya menyembah Allah mengikut cara-cara yang mereka fikirkan tetapi tidak mengikut cara yang sebenarnya. Hanya setelah didatangkan Al Qur’an barulah manusia ini pandai menyembah Allah.

Selain dari itu manusia ini sebelum didatangkan Rasulullah atau sebelum adanya Islam mereka hanya tahu adanya negara Akhirat tetapi mereka tidak kenal benar-benar dengannya. Begitu juga manusia ini tidak kenal Syurga dan Neraka mengikut pengertian yang tepat. Tetapi setelah datang Rasulullah dan setelah datang Al Qur’an dan Islam barulah manusia ini mengenal negara Akhirat dan barulah manusia ini mengenal Syurga dan Neraka dengan tepat. Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW telah dapat memperkenalkan kepada manusia tentang Syurga dan Neraka yang sebenar-benarnya.

Kita dapati disini bahwa kedatangan Islam kepada umat ini menyebabkan manusia dapat benar-benar mengenal Allah SWT dan seterusnya dapat mengenal negeri Akhirat sungguh-sungguh serta dapat pula mengetahui tentang Syurga dan Neraka dengan tepat. Hasil daripada pengenalan ini, maka manusia dapat melahirkan rasa takut dan hebat kepada Allah SWT serta dapat merasa takut kepada Neraka Allah dan cinta kepada Syurga Allah. Dari keyakinan inilah maka manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan, yang mana selama ini manusia begitu mudah digoda oleh nafsu dan syaitan itu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa syaitan itu adalah musuh manusia yang amat nyata seperti mana yang diperingatkan oleh Allah melalui firman-Nya :

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagimu”

Manakala nafsu pula senantiasa menjadi penghasut kepada manusia supaya berbuat jahat seperti mana yang tersebut dalam firman Allah yang artinya :

“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak manusia berbuat kejahatan”

Nyata kepada kita bahwa kedua-dua syaitan dan hawa nafsu itu senantiasa mengajak kita supaya durhaka kepada Allah SWT dan menghasut kita supaya jangan mempedulikan Akhirat, Syurga dan Nerakanya. Tetapi dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah, maka manusia kenal Allah dan merasa takut dan hebat kepada-Nya dan kenal pula dengan Syurga dan Neraka, maka manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan, tetapi dengan kemajuan dan pembangunan manusia tidak dapat melawan hawa nafsu. Sebab itu semakin membangun dan semakin majunya manusia itu semakin bertambah durhaka mereka kepada Allah dan manusai dapat menguasai daerah dan jajahan yang luas tetapi tidak dapat melawan syaitan dan hawa nafsu. Karena itu jugalah manusia yang luas jajahan dan daerah taklukannya senantiasa menindas dan menzalimi. Manakala kalau manusia ini hanya dapat memiliki ilmu pengetahuan yang banyak macam-macam bidangnya, belum tentu lagi dia dapat melawan nafsu dan syaitan. Karena itu kita tidak heran berapa banyak manusai yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas tetapi masih durhaka dan mungkar kepada Allah.

Apakah hasil daripada manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan ini ?

Pada mulanya nafsu dan syaitan ini adalah bersifat bakhil dan tamak yang kemudiannya mendorong manusia itu bersifat bakhil dan tamak. Tetapi setelah manusia itu dapat melawan hawa nafsu dan syaitan karena takut kepada Allah, takut kepada Neraka Allah dan rasa cinta kepada Syurga, dia didorong untuk berkorban.

Kemudian nafsu dan syaitan pula adalah bersifat sombong yang mengakibatkan manusia bersikap sombong. Tetapi apabila manusia ini dapat melawan hawa nafsu ini karena dia takut kepada Allah, takut kepada Neraka dan cinta kepada Syurga, dia dapat merendah diri kepada Allah dan kepada sesama manusia terutamanya kepada sesama kaum muslimin.
Hawa nafsu dan syaitan juga bersifat tidak mau mengakui kesalahan kalau manusia itu berbuat salah tetapi setelah manusia itu berjalan melawan hawa nafsu dan syaitan dia didorong suka mengakui kesalahan dirinya sendiri. Ini adalah karena manusia itu sudah takut kepada Allah, takut kepada Neraka Allah dan cinta kepada Syurga.

Selain dari itu nafsu dan syaitan bersifat tidak suka memaafkan kesalahan orang lain, tetapi apabila seseorang itu dapat melawan hawa nafsu dan syaitan karena telah kenal dan takut kepada Allah serta takut kepada Neraka dan cinta Syurga, dia sanggup memberi kemaafan kepada orang yang membuat kesalahan kepada dirinya.

Begitu juga hawa nafsu dan syaitan adalah bersikap gelisah bila berhadapan dengan kesusahan tetapi manakala seseorang itu dapat melawan hawa nafsu dan syaitan karena takut kepada Allah, takut kepada Neraka dan cinta kepada Syurga, maka dia dapat didorong untuk bersifat sabar dan redha bila berhadapan dengan kesusahan dan bala bencana.

Kemudian hawa nafsu dan syaitan pula adalah bersikap kejam dan zalim tetapi apabila seseorang itu dapat melawan syaitan dan hawa nafsu ini dia didorong untuk bersifat belas kasihan.

Jelaslah bahwa hasil daripada manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan seseorang itu bersifat pemurah dan suka berkorban, merenda diri kepada Allah dan manusia, sanggup mengakui kesalahan diri sendiri, sedia memaafkan kesalahan orang, bersifat sabar dan redha, serta bersifat belas kasihan. Inilah rahasia yang melahirkan kasih sayang di tengah masyarakat dan inilah rahasia yang melahirkan ketenangan, kedamaian serta keamanan di tengah kehidupan manusia.

Kasih sayang, keamanan serta kedamaian di dalam kehidupan manusia ini tidak akan lahir kalau manusia tidak takut kepada Allah, tidak takut kepada Neraka Allah dan tidak cinta kepada Syurga Allah. Manusia ini akan bersifat tamak dan rakus, tidak sabar dengan ujian-ujian hidup dan bersifat sombong dan kejam dan sebagainya.

Akhirnya timbullah perkelahian, pergeseran dan pertentangan di tengah masyarakat yang menyebabkan tidak ada kedamaian dan ketenangan dalam kehidupan manusia. Ini akan terjadi walaupun manusia itu maju dan membangun, walaupun manusia itu mempunyai kuasa dan jajahan dan daerah taklukan yang luas dan walaupun manusia itu mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi.

Jadi yang mampu melahirkan keamanan dan kedamaian ditengah kehidupan ialah manusia yang dapat melawan hawa nafsu dan syaitan hingga menyebabkan manusia itu memiliki sifat ingin berkorban, sabar dan redha, bersifat pemaaf dan berkasih sayang dan sebagainya. Ini adalah hasil dari manusia itu takut kepada Allah, takut kepada Neraka dan cintakan Syurga Allah. Ini adalah hasil terjadi di zaman Rasulullah, di zaman para sahabat, para-para tabiin dan para salafussoleh dan ia tidak terjadi di zaman kita dan di kalangan masyarakat Islam kita hari ini sebab kita tidak mengikuti ajaran Islam itu sungguh-sungguh.

Tetapi sejarah telah membuktikan kepada kita bagaimana orang-orang kaya di zaman Rasulullah karena dia takut kepada Allah, takut kepada Neraka Allah dan cintakan Syurga Allah, dia sanggup menjadi bank kepada masyarakat Islam. Artinya orang-orang kaya di zaman itu sanggup mengorbankan harta dan uang mereka untuk memajukan masyarakat Islam. Umpamanya Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar, Sayidina Abdurrahman bin Auf, Sayidina Utsman, mereka semuanya telah mengorbankan harta-harta kekayaan mereka untuk membangunkan masyarakat Islam, membantu membangunkan kehidupan dan mengatasi kemiskinan serta penindasan kaum Yahudi. Akhirnya masyarakat Islam ketika itu dapat membangun dan mencapai kemajan tanpa bersandar kepada orang kafir. Adakah Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar, Sayidina Abdurrahman bin Auf, Sayidina Utsman berbuat pengorbanan karena mereka membangun atau karena mereka banyak ilmu pengetahuan dan sebagainya. Jawabnya, tidak! Mereka-mereka ini berkorban karena mereka takut kepada Allah, takut dengan Neraka Allah dan cinta Syurga Allah. Bukankah sebelum itu mereka adalah kaya-kaya belaka tetapi mereka tidak berkorban karena mereka menjadi orang yang bakhil dan tamak ketika itu. Mereka menjadi orang yang pemurah hanya setelah mereka menerima Islam dan Rasulullah.
Kemudian sejarah juga telah membuktikan bagaimana orang-orang yang susah dan menderita di zaman Rasulullah dapat berlaku sabar dan redha dengan kesusahan dan penderitaan setelah mereka menerima ajaran Islam dan setelah mereka takut dengan Allah, takut dengan Neraka Allah dan cinta kepada Syurga Allah. Mereka ini tidak pernah mengeluh. Mereka tidak pernah merasa kecewa dengan penderitaan hingga dipuji oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an yang artinya :

“Orang yang tidak tahu menyangka mereka itu adalah orang-orang yang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta”

Kemudian kita juga dapat mengetahui dari sejarah bagaimana Sayidatina Fatimah binti Rasulullah senantiasa ditimpa dengan ujian-ujian hidup. Waktu kecilnya lagi ibunya Sayidatina Khadijah telah meninggal dunia dan hiduplah dia bersama Rasulullah yang serba miskin. Kemudian apabila dewasa, dia nikah pula dengan seorang yang serba miskin yaitu Sayidina Ali. Bertambah menderitalah hidup Sayidatina Fatimah. Yang membuatnya lebih menderita, ialah karena Sayidina Ali sering meninggalkannya seorang diri karena Sayidina Alil pendakwah atau pejuang. Apabila ia keluar rumah berminggu-minggu baru balik. Maklumlah perjalanan di ketika itu adalah amat sukar. Dan pada waktu Sayidatina Fatimah tinggal seorang diri, dialah yang terpaksa menyelenggarakan urusan rumahnya seperti mengambil air di perigi yang jauhnya sekitar empat kilo dari rumah. Dia terpaksa berjalan kaki di tengah-tengah padang pasir yang panas terik di waktu siang dan terlalu sejuk di malam hari. Kemudian perigi itu adalah sedalam lebih 20 hasta yang diambil dengan menggunakan timba. Hampir setiap hari Sayidatina Fatimah membuat kerja ini.

Demikian digambarkan tentang kehidupan Sayidatina Fatimah tetapi dia tidak pernah mengeluh tentang kesusahannya. Ini adalah karena dia takut kepada Allah, takut kepada Neraka Allah dan cinta kepada Syurga Allah. Karena itu dia senantiasa sabar dan redha dengan penderitaan yang menimpa.

Kalau seseorang sudah takut kepada Allah dan takut kepada Neraka Allah serta cinta kepada Syurga Allah, sepertimana yang dicontohkan oleh Sayidatina Fatimah binti Rasulullah, inilah yang dikatakan keagungan dan kebesaran Islam itu. Dengan rasa takut kepada Allah, takut kepada Neraka Allah, cinta dengan Syurga Allah ini maka manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan hingga dapat melahirkan ketenangan hidup yang mana terhapus segala kekacauan, pertengkaran, pertentangan, peperangan. Ini telah dapat diciptakan oleh umat Islam di zaman yang lampau dengan demikian keagungan Islam itu bukan terletak pada banyaknya ahli fikir, bukan terletak pada pembangunan dan kemajuannya dan bukan terletak pada kuasa dan luas jajahan pemerintahannya.

Dan manakala saya katakan bahwa keagungan Islam itu bukan terletak pada banyak ahli fikirnya atau pada pembangunannya atau pada daerah yang luas, jangan pula dikatakan bahwa saya mengatakan supaya jangan membangun, jangan mencari ilmu pengetahuan, jangan belajar dan jangan maju. Sebab sebagaimana yang telah saya katakan tadi bahwa ingin berilmu pengetahuan, ingin menjadi pandai, ingin membangun, ingin maju dan ingin menakluki daerah yang luas dan berkuasa adalah fitrah manusia, baik dia Islam ataupun kafir. Jadi ajaran Islam ini tidak menyekat dan menghalang kemauan manusia. Islam tidak menghalang manusia mencari ilmu pengetahuan dan Islam tidak menghalang manusia maju dan membangun. Cuma Islam menyediakan peraturan-peraturannya sjaa agar dapat dijamin keselamatan umat agar jangan timbul kekacauan, agar jangan melanggar hak asasi manusia lain dan agar tidak timbul hasad dengki dan perkelahian dan agar jangan sampai merusak akhlak. Apa saja yang diinginkan oleh fitrah manusia, lakukanlah tetapi mesti diatur mengikut garis-garis yang telah ditetapkan oleh Islam.

Untuk itu, apa saja yang hendak dilakukan itu, ia mesti menempuh lima syarat. Karena itu, fitrah ingin maju maka laksanakan kemajuan tetapi pertama, niat mesti betul dan mengikut syariat, kedua pelaksanaannya betul mengikut syariat, ketiga perkara yang hendak dibuat itu juga adalah betul mengikut syariat Islam. Hasil dari usaha itu juga mesti betul dan kelima ketika menjalankan usaha itu jangan meninggalkan perkara asas yaitu kewajiban yang terkandung dalam rukun Islam yang lima dan rukun Iman yang enam. Begitu juga dengan fitrah manusia yang ingin mencari ilmu pengetahuan. Belajarlah dan tuntutlah ilmu tetapi niat mencari ilmu itu mesti betul, pelaksanaannya mesti betul menurut syariat, perkara yang dipelajari itu sah menurut syariat, hasil dari menuntut ilmu itu betul dan selama mencataat ilmu itu kita tidak meninggalkan perkara asas seperti tidak meninggalkan shalat, puasa, dan sebagainya. Dan karena fitrah kita ingin menguasai daerah yang luas, maka kuasailah walaupun dunia ini sekalipun yang hendak dikuasai, tetapi mesti menempuh lima syarat yang kita sebutkan tadi, supaya kita berkuasa itu tidak meninggalkan huru-hara orang lain, supaya tidak menimbulkan hasad dengki dan supaya jangan melanggar hak asasi manusia lain.

Jadi Islam hanya mengatur supaya manusia ini mendapat keselamatan mengikut lima syarat yang telah dibentangkan tadi, maka Allah akan nilai ia sebagai ibadah yang mana di Akhirat begitu cantik sekali, kalau kita faham benar-benar apa yang kita kaji itu dan kemudian kita amalkan sungguh-sungguh. Karena apa saja yang kita buat akan mendatangkan dua faedah. Apa yang kita buat itu merupakan kemajuan di dunia yang mendapat faedahnya dan itu jugalah kemajuan kita di Akhirat. Ini adalah karena apa yang kita buat adalah menjadi ibadah mengikut syariat Islam, kalau ia menempuh lima syarat ibadah.

Inilah keagungan dan kebesaran Islam, yaitu setelah datang Rasulullah SAW dan menanamkan iman kepada manusia, maka timbul rasa segan kepada Allah, takut dengan Neraka Allah dan cinta dengan Syurga Allah. Dengan ini pula manusia dapat melawan hawa nafsunya dan syaitan yang mana senantiasa mengajak manusia berbuat kejahatan. Dan manusia yang dapat melawan hawa nafsu ini dapat melahirkan kedamaian, keamanan, serta kasih sayang ditengah-tengah kehidupan manusia.
Sebaliknya manusia yang tidak takut kepada Allah, tidak segan dengan Neraka Allah dan tidak pula cinta kepada Syurga Allah, makin dia maju makin dia menjadi orang jahat, makin banyak ilmunya makin dia menjadi orang yang jahat, dan makin luas daerah jajahan dan taklukannya makin dia menjadi orang jahat. Akhirnya lahirlah kemungkaran di tengah masyarakat, penindasan dan penzaliman yang akibatnya tidak ada lagi kedamaian dan keamanan di tengah masyarakat manusia, berlakulah perkelahian, pembunuhan dan peperangan yang tidak ubah seperti kehidupan di Neraka. Ini yang dikatakan Neraka dunia sebelum Neraka Akhirat. Firman Allah yang artinya :

“Lahirlah kerusakan di daratan dan di lautan adalah akibat ulah tangan manusia”